Jika anda ingin memeiliki usaha sampingan, dengan modal awal kecil, penghasilan rutin dan aman yang satu ini bisa anda coba. Siapa tahu bintang kemujuran Anda justru berada disini.  Seperti pengusaha sukses, warga Shiddiqiyyah  Mojokerto  yang omsetnya ratusan juta ini.

 Tak bisa bekerja dibawah tekanan orang lain, Dody (31) karyawan swasta salah satu perusahaan di Jombang mencoba membuat usaha sampingan, beternak bebek. Awalnya bebek dititipkan orang lain sementara dia bertahan di tempat pekerjaannya. Beberapa tahun kemudian usaha bebeknya berkembang pesat hingga dia berani meninggalkan pekerjaannya. Kini dia bisa bekerja mandiri dengan omset ratusan juta rupiah perbulan.

 Hampir semua perusahaan biasa menerapkan aturan yang harus diikuti semua karyawan. Namun bagi Dody bekerja dibawah komando orang lain itu tak bisa terus menerus diikuti. Dia pun berinisiatif bekerja mandiri. Sebelum keluar dari perusahaan dia berusaha menyiapkan ladang pekerjaannya sendiri. Pada awal tahun 2007 Dody membeli 100 ekor bebek dan dititipkan orang lain dengan sistem bagi hasil. “Bebek dari saya dan hasil telurnya dibagi dua,” katanya. Bebek yang dibeli itu dipilih yang siap bertelur sehingga dalam waktu singkat segera bisa diketahui hasilnya. Perhitungannya tepat, hasil telurnya lumayan bagus sehingga pada tahun kedua dia bisa membeli lagi sehingga jumlahnya menjadi 500 ekor. Tapi kali ini dia teruji. Seperti layaknya usaha ada kalanya berjalan mulus namun tak jarang pula pada tahapan tertentu menghadapi masalah.   

 Tanpa sepengetahuannya, 500 ekor bebek siap telur itu dijual oleh mitra kerjanya sendiri. Celakanya, hal itu baru diketahui pada 3 bulan akhir tahun kedua. Biasanya, Dody minta laporan dan mengevaluasi perkembangan bebek per tiga bulan sekali. Mitra kerjanya melarikan diri, anak dan istrinya ditinggal begitu saja. Untunglah, istri mitra kerjanya itu mau bertanggung jawab. Istri mitra kerjanya itu bersedia bekerja pada Dody untuk melunasi hutang suaminya dengan cara potong gaji.

 Beberapa saat kemudian Dody merubah sistem usahanya, mempekerjakan orang. Kali ini dia membeli 300 ekor bebek. Tapi karena bebek yang dibeli terlalu muda akhirnya gagal lagi. Sebanyak 250 ekor dijual dan sisanya, 50 ekor diternak sendiri dibelakang rumah. Meski jumlahnya sedikit tapi kali ini hasilnya justru lumayan. Tiap hari 50 ekor bebek itu dapat menghasilkan antara 40-45 butir telur. Penasaran, dia lantas tertantang mengelola lebih serius. Hasil penjualan telur terus dibelikan bebek untuk menambah jumlah ternaknya.  

 Awal tahun 2009, bebek yang dikelola mencapai 1000 ekor. Dan sejak Juli 2009 dia keluar dari perusahaan tempatnya bekerja dan fokus menekuni bisnis bebek. Dengan dukungan keluarga, dia lalu melakukan ekspansi pasar luar daerah melalui jaringan internet. Bebek yang dijual pun kini beragam mulai dari bebek siap bertelur, meri, telur bebek dan bebek usia 60 hari.

Meski bisnis via internet memudahkan pemasaran namun dody juga mengaku jual beli yang didasari tak saling kenal sebelumnya itu rentan penipuan. Jika tak hati-hati bisa tertipu. Seperti pernah dialami, sudah mengirim 1000 ekor bebek tapi tak dibayar sama sekali. Karena itu dia mengingatkan, jualan via online sebaiknya dipastikan lebih dulu uang dari pembeli diterima sebelum barang dikirim. Pun jangan mudah terjebak pembayaran uang muka, sebab berdasar pengalaman juga masih rentan penipuan. “Ada orang yang memakai nama haji tapi nyatanya penipu,” terangnya.

Menurut Dody, usaha ternak bebek saat ini masih terbilang menjanjikan. Data statistik dinas peternakan Jatim, katanya, menunjukkan kebutuhan daging dan telur setiap hari terus mengalami kenaikan. Diantara jenis unggas, bebek termasuk kebal penyakit sehingga resiko kematian kecil. Pakan bebek juga mudah, nasi aking (karak) dan hampir semua sisa makanan dan sayuran. Meski begitu, sebiknya pakan bebek diusahakan yang banyak mengandung sumber protein.

 Dia menjelaskan, jika ingin menjadi pengusaha bebek setidaknya hendaknya memperhatikan tiga hal ; perawatan, pakan dan kandang. Soal harga, peternak malah memiliki posisi tawar yang lebih baik. “Harga tidak terpengaruh kondisi pasar, sebaliknya pasar yang mengikuti harga peternak,” ungkapnya.

 Selain itu, dari sisi dukungan pemerintah, jenis usaha ini juga memperoleh perhatian yang baik dari dinas peternakan seperti membantu mendapatkan pinjaman kredit usaha rakyat. Saat ini bapak dengan satu anak ini mempunyai sekitar 2000 ekor bebek dengan omset berkisar 100 sd 200 juta setiap bulan.

 Untuk memenuhi permintaan luar daerah terutama via pasar online, dia tak segan terus mencari relasi usaha. “Mereka yang kerjanya menetaskan bebek di Jombang dan Mojokerto saya datangi, siapa saja yang jual beli telur juga saya datangi juga untuk menunjang usaha saya. Semakin banyak relasi semakin mudah saya memasarkan,” pungkasnya.* admin

Article source: http://alkautsar.co/?p=1156

Leave a Reply

Pencarian Dunia
Terapi Sehat Tentrem