Posts Tagged ‘syukur’

Teknis Pengumpulan Shodaqoh Kelahiran:

Agar kita mendapatkan dua hikmah sekaligus, yakni mensyukuri hari kelahiran kita masing-masing sekaligus juga mensyukuri hari kelahiran Mursyid, maka teknis pelaksanaannya bisa ditata sebagai berikut:

Di tiap-tiap rumah warga Shiddiqiyyah telah disediakan kotak atau kaleng shodaqoh. Jika si ayah lahir pada hari kamis maka setiap masuk hari kamis si ayah memasukkan uang shodaqoh ke dalam kaleng/kotak tersebut dengan niat mensyukuri hari kelahirannya sendiri. Jika si ibu lahir pada hari selasa maka setiap masuk hari selasa si ibu memasukkan uang shodaqoh kedalam kotak/kaleng tersebut dengan niat mensyukuri hari kelahirannya sendiri. Jika si anak lahir pada hari sabtu maka anak kita diajari untuk memasukkan uang shodaqoh ke dalam kaleng/kotak tersebut dengan niat mensyukuri hari kelahirannya sendiri. Hal ini sekaligus menjadi latihan dan pendidikan yang baik untuk semua anggota keluarga kita sejak dini.

Kemudian pada saat masuk hari ahad kliwon kita berkumpul di pos kautsaran atau gabungan beberapa pos kautsaran dengan membawa kotak/kaleng yang ada di rumah kita masing-masing. Setelah dilaksanakan ibadah kautsaran maka kotak/kaleng kita masing-masing itu kita kumpulkan/setorkan di pos kautsaran tersebut dengan niat mensyukuri hari kelahiran Mursyid.

Di saat memasukkan uang shodaqoh, baikpun saat niat mensyukuri hari kelahirannya sendiri maupun di saat niat mensyukuri hari kelahiran Mursyid, tentunya disertai dengan bacaan doa “Bismillaahi Barokatulloohi Rosuululloohi” 7 kali, sebagaimana yang diajarkan dalam buku tersebut.

Dengan teknis pelaksaan sedemikian rupa maka syukur hari kelahiran sendiri dan syukur hari kelahiran Mursyid terlaksana semuanya.

Tetapi apa yang disampaikan di atas tentang teknis pelaksanaan ini sekedar sebagai masukan saja jikalau memang dianggap baik.

  Sistem Pelaporan:

Apa-apa yang dicantumkan dan dijelaskan dalam buku “Al Ayyamus Shodaqoh Li Ahli Thoriqotis Shiddiqiyyah” adalah rule yang harus kita taati bersama, terhadap hal-hal yang telah digariskan dalam buku terseut maka sepatutnya kita tidak membuat aturan sendiri atau mekanisme sendiri, kecuali terhadap hal-hal yang tidak diterangkan dalam buku tersebut.

Misalnya mengenai system pelaporan keuangan, hal ini tidak disinggung sama sekali dalam buku tersebut, sehingga terbuka lebar ruang bagi kita semua untuk mendiskusikannya dan merumuskan mekanismenya.

 Adapun tentang system pelaporan keuangan, kita mengusulkan agar sedapatnya data pelaporan keuangan itu bisa dihimpun dengan koordinasi yang baik secara nasional.

Lebih kongkritnya demikian, bahwa pengelolaan (penerimaan dan penyaluran dana) tetap diserahkan pada pos kautsaran masing-masing sebagaimana spirit otonomi dan desentralisasi di atas.

Sedangkan rekapitulasi atau catatannya saja (bukan uangnya dan bukan pengelolaannya) yang dilaporkan pada jenjang di atasnya. Masing-masing pos kautsaran melaporkan datanya pada tingkat kabupaten, lalu pengurus tingkat kabupaten melaporkan datanya pada tingkat pusat.

Kemudian data yang terkumpul di pengurus pusat tersebut dipublikasikan ke seluruh warga Shiddiqiyyah melalui media majalah AlKautsar. Yang pasti majalah AlKautsar akan bersedia jalan bersama untuk mensukseskan program ini. Bahkan majalah AlKautsar mengajak oganisasi mana saja yang siap untuk mengkoordinir sistem pelaporan ini, apakah Orshid, apakah Opshid, apakah YPS, apakah Dhibra.

Kemudian data laporan keuangan yang telah dihimpun oleh salah satu organisasi tersebut akan dipublikasikan setiap bulan/edisi di majalah AlKautsar sebagaimana halnya laporan Rekening Jamiatul Mudzakirin dan laporan Donasi Pesantren Hubbul Wathon minal Iman (HWMI).

Oleh sebab itu majalah AlKautsar berharap dan mengajak pada organisasi yang berwenang untuk segera menghimpun data laporan keuangan ‘hari pertemuan shodaqoh’ di seluruh Indonesia.

Kemudian agar system pelaporan ini bisa berjalan cepat maka kendala teknis harus diminimalisir, misalnya fihak kabupaten yang melaporkan datanya ke organisasi pusat tidak perlu harus dengan surat resmi, dengan sms pun sudah cukup atau lewat email. Selanjutnya majalah AlKautsar dengan sangat senang hati akan mempublikasikannya.

 Sekali lagi bahwa organisasi ini nanti hanya sebatas mengumpulkan data laporannya saja, bukan mengelola dananya, karena pengelolaan dana tetap menjadi otonomi masing-masing kelompok warga Shiddiqiyyah (pos kautsaran).*

Article source: http://alkautsar.co/?p=1403

Dalam tidak sadar setiap hari kita memohon di dalam sholat kita
tetapi sayangnya, kita hanya memohon tanpa memahami
sekedar tersebut di bibir, tetapi tidak tersentuh dari hati kita selama ini

Marilah kita mulai menghayati ketika kita duduk di antara dua sujud semasa sholat
dengan rendah hati nyatakanlah permohonan ampun kepada Allah Read the rest of this entry »

Manusia memiliki jasad, dan ruh. Pertemuan dari keduanya timbullah akal. Akal terdiri atas rasa, karsa dan priksa. Ketiga hal tersebut agar keluar potensi optimalnya harus diikat oleh agama. Makanya dikatakan tidak ada agama bagi yang tidak berakal

“Tegaknya seseorang itu karena akalnya, dan tidak ada agama bagi orang yang tidak berakal”

Akal berasal dari bahasa arab “aqlun”, artinya “ikatan”
“tegaknya manusia karena akalnya”

Inilah hakikat manusia. Tegak mestinya tidak roboh. Artinya perlu bersandar pada sesuatu yang tegak dan jika sesuatu yang tegak tidak cukup kuat tentu akan roboh bila dibuat sandar perlu kiranya mencari sandaran yang paling tegak, kokoh dan kuat. Tentunya sesuatu yang Maha Tegak, otomatis jika bersandar pada yang Maha Tegak, tentu akan ikut tegak Read the rest of this entry »

Pencarian Dunia
Terapi Sehat Tentrem