Posts Tagged ‘Shiddiqiyyah’

Para pengurus YPS Bogor kini sedang merintis Bustan Tsamrotul Qolbis Salim bersama-sama. Diakui secara jujur  kendati anak cabang  YPS sudah tersebar di beberapa daerah di Bogor namun belum ada satupun berdiri BTQ. “Gunung Putri, Bogor Kota, Bambu Kuning, Citeureup  sudah ada YPS  tapi belum mendirikan BTQ,”  ujar Koeswandi Ketua YPS Bogor kepada Al-Kautsar.  Justru karena itulah Koeswandi menegaskan pendirian  berbasis Al Qur-an, akhlaq dan cinta tanah air itu kini sedang digalakkan.

“Pak Nyoman sudah mulai merintis,” Aku Koeswandi. Pria bernama lengkap Nyoman S. Hartana tersebut adalah satu satu tokoh Shiddiqiyyah di Bogor yang namanya juga cukup dikenal di lingkungan Shiddiqiyyah. Pelaku penting dalam berbagai penyelenggaraan pameran yang di gelar Shiddiqiyyah, juga mantan Wakil Ketua Umum DPP Orshid    periode 2005-2012.  Subiyati Sekertaris Dhibra Bogor juga membenarkan persiapan  itu, selain Nyoman S. Hartana, gagasan pendirian BTQ juga diperjuangkan oleh Herbudiarto.

“Ya saya sudah matur sama pak Her Budiarto, lagi diusahakan,” tutur  Subiyati yang kemudian menggungkap bahwa kendala soal BTQ di daerah yang dikenal sebagai pusat pendidikan dan penelitian pertanian nasional ini justru faktor pengajar.  “Tidak ada pengajarnya dan sekarang masih cari jalan keluarnya,” terang Subiyati optimis.

Sejalan dengan perintisan BTQ  itu, usai tasyakuran ulang tahun berdirinya YPS 10 April lalu, Koeswandi memang berharap tampilnya generasi-generasi baru yang membantu perjuangan YPS di daerah yang dikenal pusat pendidikan dan penelitian pertanian nasional ini. bahkan, bila ada yang sanggup mengantikannya sekalipun ia malah bersyukur. “Ya saya pengen ada peremajaan, kalau dibilang blenger ya gak, kan perjuanggan,” harap lekali yang  sudah 30 tahun memimpin YPS Bogor ini sambil tersenyum.

Article source: http://alkautsar.co/?p=1304


Jumlah pengurus bertambah 75 persen.

Jajaran pengurus DPP Orshid periode ke-III masa bakti 2012 hingga 2016 kali ini tampak sedikit “gemuk” dibandingkan dengan kepengurusan sebelumnya. Pada masa kepengurusan sebelumnya yang juga dipimpin oleh Ketua Umum Drs. Ris Suyadi jumlah awak hanya sekitar 40-an. Kali ini tercatat 65 pengurus menduduki kursi DPP Orshid, belum lagi ditambah 5 pioner yang duduk di dewan ketahananan. Total keseluruhan ada 70 awak.

Dengan bertambahnya pasukan sebesar 75 persen  itu, sang Ketua Umum berharap perjuangan dalam  memenangkan terwujudnya visi misi Orshid itu semakin ringan, lancar dan sukses. Bukan sebaliknya. “Mudah mudahan setelah dilantik sesuai dengan harapan kita semua, pengurus bisa menjalankan tugasnya sesuai dengan amanah Munas,” harap Ris Suyadi.

Lahirnya dewan ketahanan ini telah menggesar adanya dewan pakar yang ada sebelumnya. Berbeda dengan dewan pakar yang bekerja untuk memberikan pemirikan-pemikiran kepada organisasi, dewan ketahanan lebih fokus pada urusan penunjang. Dipimpin oleh H. Fuad Sanusi warga Shiddiqiyyah asal Gresik Jawa Timur, dewan ini beranggotakan empat orang pengusaha sukses. Gunawan Wibisono (Malang), Syaifu Rohman (Banjarmasin) Jolik Siwi (Pati) dan Drs. Fathurrohman (Jombang). Drs. Ris Suyadi sendiri menegaskan tidak bisa sembarangan orang bisa duduk di kursi dewan ketahanan ini.  “Namanya dewan ketahanan saya yakin beliau-beliau ini betul betul orang yang kuat dan tahan. “Artinya kuat dan tahan mendampingi DPP Orshid dan seluruh progam-progam yang sudah ada,” ungkapnya.

Kesiapan dewan ketahanan dalam mengawal program-program Orshid ini tampaknya juga sudah disadari oleh sang dewan.  Ketua  Dewan Ketahanan DPP Orshid H. Fuad mengatakan bahwa medan perjuangan kedepan memang lebih pelik. “Kondisi akan lebih sulit dibandingkan kejadian yang telah kita lewati,” katanya. Organisasi Shiddiqiyyah harus lebih hidup dan ia mengajak untuk saling berlomba-lomba dengan bergandengan tangan. “Semuanya siap,” tandasnya.

Seiring dengan lahirnya dewan ketahanan dalam stuktur baru kepengurusn DPP Orshid kali ini, bertambah pula dua departemen baru dan lima kursi bidang lain di jajaran pengurus inti. Yaitu; ketua, protokoler dan bendahara. Dulu di bawah ketua umum hanya ada ketua 1, ketua 2 dan ketua 3 sekarang bertambah ada ketua 4. Bertambah pula di bawah sekretaris Jendral, dua personil protokoler dan dua bendahara yang sebelumnya juga tidak ada. Sementara itu dua departemen baru: Hiznul Aman dan Departemen Program khusus juga memilki sub departemen yang banyak. Departemen Hiznul Aman memiliki empat sub. departeman: operasional, PAM, logistik dan personalia. Kemudian Departemen Program khusus ada tiga: Fasilitasi pragam JM 2000, Kebangkitan tahun baru hijriyyah dan pembangunan sarana prasarana Orshid. Program khusus ini mengacu kepada hasil Musyawarah Nasional ketiga lalu.

Lengakplah, kini DPP Orshid memiliki 8 departeman yang sebelumnya hanya 6 depertemen. Departemen Organisasi ketua Ir. Ismu Zulfikar, MM (Depok), Departemen Data dan Informasi ketua Chozinuddin (Salatiga), Departemen Hubungan Antar Lembaga ketua Drs. Ismu Samsudin (Pekalongan) dan Departemen Kemakmuran ketua Danudi (Sidoarjo).  Kemudian Departemen Hukum ketua Tuti Eltiati, SH (Sleman). Departemen Hishnul Aman Shiddiqiyyah Kepala Muji Slamet, SH, M.H (Sidoarjo), Departemen Pendidikan ketua DR. Ir. Waluyo Edi Susanto, M.Pt (Malang) dan terahir Departemen Program Khusus ketua Ir. Setyo Poernomo (Surabaya).

Orang bilang gemuk belum tentu sehat, sehat juga belum tentu gemuk. Tapi untuk organisasi sehat dan gemuk bisa jadi ideal. Butkinya gemuknya organisasi DPP Orshid dalam waktu singkat sebelum dilantik juga telah berhasil menghimpun dana hampir  Rp 2 milyar untuk persiapan program kemakmuran dengan membentuk koperasi.*

Article source: http://alkautsar.co/?p=1284

Shilaturrohmi, santunan dan shodaqoh adalah ciri khas Shiddiqiyyah yang selama ini sudah mendarah daging di kalangan warga Shiddiqiyyah. Mengingat pentingnya 3 hal itu maka majalah Al -Kautsar beberapa hari yang lalu juga turut mensukseskan progam tersebut. Sedikit berbeda dengan yang lain, oleh karena Al-Kautsar ini adalah media maka dengan medialah kita menjalin hubungan itu.

Dua jurnalispun kami kirim ke sebuah gereja Katholik yang letaknya di kaki gunung Wilis, Puh Sarang, Kediri. Bukan untuk berdoa kepada Bunda Maria tetapi untuk mengikuti acara pelatihan workshop foto Traveling dan Jurnalistik.

Dengan ikutnya Al-Kautsar dalam pelatian itu kami berharap memperluas jaringan ke media lain khususnya di Jawa Timur ini. Sehingga selain kenal dengan para jurnalis dan fotografer di Jatim, serapan ilmu dari fotografer kondang asal surabaya Mamuk Ismuntoro (Matanesia) dan jurnalis Hari Tri Wasono (Tempo) sang moderator menjadi bidikan kedua kami. Tak hanya itu saja foto kami hasil hunting di Poh Sarang kemarin malah mendapat nilai plus dari mereka “Ini yang namanya foto jurnalistik, ini persis karya foto saya” kata Mamuk mengisahkan.

Acara yang di helat Merah Photography club berlangsung pada Ahad 29 April 2012 bertempat di Wisma Werdiningsih, Jl. Wisata Puh Sarang, Kediri itu di hadiri kurang lebih 50 pothografer dari berbagai daerah seperti Tulungagung, Nganjuk, Kediri dan sekitarnya. Mudah mudahan  melalui sillaturrohmi antar media ini Al-Kautsar semakin maju dan Shiddiqiyyah kian menggema di Indonesia.

Article source: http://alkautsar.co/?p=1237

Pencarian Dunia
Terapi Sehat Tentrem