Posts Tagged ‘mursyid’

Tata Cara Mengeluarkan Shodaqoh:

Pada halaman 12-13 dijelaskan mengenai cara mengeluarkan shodaqoh, sebagai berikut:

Setelah berkumpul pada hari itu membaca Kautsaran bersama-sama.

Setelah selesai Kautsaran, mengeluarkan shodaqoh menurut kemampuan dengan niat hati yang ikhlas Lillahi Ta’ala disertai bacaan: “Bismillaahi Barokatulloohi Rosuululloohi” 7 kali.

 Oleh karena cara mengeluarkan shodaqoh ini telah diatur dalam buku tersebut maka sudah seharusnya kita menjalankan sesuai petunjuk tersebut. Lebih-lebih jangan lupa membaca “Bismillaahi Barokatulloohi Rosuululloohi” 7 kali, karena mungkin ada rahasia besar dalam hal kemakmuran di balik doa tersebut.

  Penyaluran Shodaqoh:

Pada halaman 13 diterangkan mengenai peruntukan dana shodaqoh tersebut.

“Bila shodaqoh itu telah berkumpul kemudian disalurkan kepada beberapa saluran.

1. Disalurkan untuk perjuangan Shiddiqiyyah.

2. Disalurkan untuk kaum dlu’afa, baik menangani warga Shiddiqiyyah sendiri maupun orang lain.

3. Disalurkan untuk saudara yang kena musibah.

4. Disalurkan untuk kesejahteraan warga Shiddiqiyyah.

5. Dijadikan pertahanan benteng shodaqoh (kas shodaqoh), istilahnya: khozanatu shodaqoh.”

 Obyek peruntukannya sebenarnya sudah ditentukan Mursyid ada lima poin di atas, oleh sebab itu kita harus mengawal agar lima sasaran ini senantiasa menjadi focus penyaluran kita dari dana hasil ‘pertemuan shodaqoh’ tersebut, bukan untuk di luar lima poin ini.

 1).Sasaran pertama ialah untuk perjuangan Shiddiqiyyah, ini sudah jelas.

2).Sasaran kedua ialah untuk kaum dlu’afa, baik menangani warga Shiddiqiyyah sendiri maupun orang lain. Jadi kaum dlu’afa dari waga Shiddiqiyyah maupun non warga harus sama-sama diperhatikan, bahkan dalam isi buku di atas penyebutan warga Shiddiqiyyah lebih didahulukan, apakah ini mengandung maksud agar kita membangun internal kita dulu? Karena tidak dipungkiri banyak saudara kita yang masih tergolong “dlu’afa”.

3).Sasaran ketiga ialah untuk saudara yang kena musibah. Memang musibah itu datangnya tiba-tiba dan tidak disangka sehingga banyak yang terjepit oleh keadaan, untuk itulah perlu mendapat bantuan dana. Hikmah penyaluran ini, disamping untuk meringankan beban saudara kita, juga akan bisa meningkatkan solidaritas dan tenggang rasa sesama saudara Shiddiqiyyah sehingga otomatis akan terbangun ukhuwah antar warga Shiddiqiyyah.

4).Sasaran keempat ialah untuk kesejahteraan warga Shiddiqiyyah. Jujur saja bahwa tidak sedikit warga Shiddiqiyyah yang hidupnya jauh di bawah sejahtera, apalagi jika bicara soal pengangguran lebih banyak lagi.

Analoginya begini, jikalau tidak ada dana untuk membeli semen atau pasir maka tentu bisa ditunda kapan-kapan pembeliannya, tapi bilamana tidak ada dana untuk membeli beras yang harus dimakan anggota keluarganya pada hari itu juga bisakah ditunda kapan-kapan? Tidak bisa. Kalaupun orang tuanya bisa menahan lapar tapi bagaimana dengan anak-anaknya? Maka disinilah urgensinya / mendesaknya sasaran yang keempat ini, dan perlu dijadikan bahan pemikiran bersama. Terutama soal skala prioritas yang perlu menjadi garapan pengurus bidang ekonomi/kemakmuran di semua organisasi ialah memfasilitasi kail (bukan ikan) terhadap para keluarga tidak mampu di atas, bukan lebih banyak berkutat pada pemberdayaan kelas ekonomi menengah.

5).Sasaran yang kelima ialah sebagai pertahanan benteng shodaqoh (kas shodaqoh), istilahnya: khozanatu shodaqoh.

Peruntukan yang kelima ini untuk kas shodaqoh yang bisa dijadikan dana standby yang bisa dipergunakan sewaktu-waktu untuk keperluan yang bermanfaat, misalnya saja jika ada serkiler atau proposal kegiatan tertentu maka sebagian dari dana kas shodaqoh ini bisa disumbangkan untuk mengisi serkiler tersebut, ini hanya sekedar contoh saja.

Tiga Syarat:

Pada halaman 14 disebutkan mengenai tiga hal.

“Saya mempunyai keyakinan, bila itu diamalkan dengan hati yang ikhlas dan istiqomah dan amanah, insya Alloh, Alloh akan melimpahkan Barokah Rohmat Alloh kepada seluruh warga Shiddiqiyyah, amiin Yaa Robbal Alamiin.”

 Jadi Ikhlas, Istiqomah, Amanah, inilah tiga syarat agar ‘hari pertemuan shodaqoh’ yang kita realisasikan nanti bisa membawa hasil positif yakni mendapatkan Barokah dan Rohmat Alloh. Oleh sebab itu tiga syarat ini jangan sampai kita lupakan.

 Otonomi Kelompok Warga (Desentralisasi):

Pada halaman 14, Mursyid mengingatkan kita tentang Desentralisasi pengelolaan dana tersebut, bukan sentralisasi, bunyinya sebagai berikut:

“Masalah pengaturannya terserah kebijaksanaan warga masing-masing kelompok”.

 Bila kita cermati ungkapan kalimat dalam isi buku di atas, sepertinya kurang dikehendaki adanya sentralisasi pengelolaan (pemasukan dan penyaluran) dana tersebut.

Memang sangat tepat jika masalah pengaturannya terserah kebijaksanaan warga masing-masing kelompok, karena untuk:

1).Efektifitas.

2).Fleksibilitas.

3).Jangkauan sebaran efek da’wah bil-hal atau efek syi’arnya akan lebih banyak dan lebih merata. Karena dikelola oleh masing-masing kelompok warga atau pos kautsaran maka kemanfaatannya akan lebih menyebar ke pelosok desa-desa disebabkan jalur distribusinya sangat dekat.

4).Meminimalisir birokrasi yang rumit. Kita bisa membayangkan jika pengelolaannya terpusat secara nasional atau kewilayahan (kabupaten), misalnya ada warga yang kena musibah lalu harus secepat mungkin dilakukan tindakan medis operasi, maka secara teknis akan terkendala pada jenjang birokrasi yang ada atau aturan prosedural yang panjang, perlu membuat permohonan atau proposal atau pengajuan pencairan dana khozanatu shodaqoh ke tingkat kecamatan lalu ke tingkat kabupaten kemudian ke tingkat pusat, dan itupun jika di-acc/disetujui, lalu bagaimana pula jika tidak disetujui.

5).Meminimalisir resiko. Jikalau pengelolaan secara sentralistik maka bagaimana bila ada kemungkinan lalu lintas penerimaan dana yang sudah disetorkan oleh masing-masing kelompok warga itu tersendat di tingkat wilayah atau daerah atau agency-nya? Sehingga fihak pusat tidak kunjung menerima/menampung dana tersebut, padahal di saat yang sama ada kebutuhan dana mendesak yang menuntut harus segera dicairkan oleh pusat. Meskipun hal seperti ini minim sekali kemungkinan terjadinya tapi tetap harus diantisipasi sejak awal.

6).Lebih memahami situasi di lapangan. Jika pengelolaannya diserahkan pada kebijaksanaan warga masing-masing kelompok atau masing-masing pos kautsaran maka diharapkan bisa lebih tepat guna, dikarenakan mereka lebih mengetahui dan memahami situasi di lapangan, lebih tahu siapa yang harus dibantu secara financial dan siapa yang justru harus membantu, siapa yang kena musibah dan siapa yang justru harus menolong, bidang perjuangan mana yang harus segera ditunjang dan mana yang bisa ditunda sebulan kemudian, maka kelompok warga atau pos kautsaran itulah yang lebih memahaminya sehingga kebijaksanaan yang diambil (melalui musyawarah di tingkat pos kautsaran) akan lebih tepat guna sekaligus tepat sasaran.

 Oleh sebab itu, dalam praktek ‘hari pertemuan shodaqoh’, perkara desentralisasi ini harus benar-benar kita perhatikan bersama sehingga sesuai dengan yang diharapkan oleh Mursyid Thoriqoh Shiddiqiyyah pada buku tersebut: “Masalah pengaturannya terserah kebijaksanaan warga masing-masing kelompok” (halaman 14)….besambung

 

Article source: http://alkautsar.co/?p=1383

Pernahkah Anda berfikir mendalam sudah khusu’kah sholat kita disetiap hari? Padahal tanpa khusu’ kholat kita itu tertolak, alias tidak diterima oleh Alloh Ta’ala

Bagi murid Shiddiqiyyah yang sudah lama mendalami thoriqoh tentu sudah mengetahui perkara wajibnya sholat khusu’ ini namun dalam prakteknya, sudahkah shalat kita benar-benar khusu’ wallhu a’lam hanya diri kita dan Tuhan lah yang Maha Mengetahui. Syukurlah jika saat ini Almukarrom Mursyid Shidiqiyyah akan memberikan pelajaran Sholat khusu’ ini.

Berbicara masalah khusyu’ dalam ibadah sholat ini sebenarnya di kalangan para ulama’ terdapat silang pendapat. Ada yang mengatakan khusu’ itu bukanlah tergolong menjadi syarat syahnya sholat, namun ada juga ulama’ yang menyatakan dengan tegas tanpa khusu’ sholat itu justru tertotak  alias sia-sia. Ada alasan yang cukup sederhana,  jika saja khusu’ menjadi syarat syahya sholat maka akan banyak sekali sholatnya umat Islam yang tertotak dan hal ini bisa menghawatirkan, karena bisa di afsiri lebih baik tidak usah sholat  sebab belum bisa khusu’.

Para ulama’ yang meyakini wajibnya sholat khus’ inipun membantah dengan alasan yang cukup sederhana pula. “Apakah tidak lebih sulit, jika  sudah berpuluh-puluh tahun sholat bahkan  selama hidup di dunia tetapi karena memang tidak pernah memperhatikan masalah khusu’ lantas di ahirat ternyata semua sholatnya tidak ada yang diterima oleh Alloh Ta’ala. “Kan lebih baik didunia ini bersusah-susah dahulu untuk mencapai sholat khusu’.”

Para ulama’ yang sepakat tidak memasukkan khusu’ menjdai syarat syahnya sholat ini adalah pada ulama’ ilmu fikih. Maka tidaklah heran jika tidak ada satupun di dalam kitab-kitab feqih mulai dari kitab feqih yang kecil sampai yang besar,  bisa di temukan teori-teori khusyu’ ada dalam kitab tersebut.

Adapaun diantara kitab kitab itu antara lain ; Kitab Feqih Sullamul Munajat ‘Ala Safinatis Sholat (Ta’lif Sayyid Abdulloh Al-Hudlri), Kitab Feqih Sullamut Taufiq (Ta’lif Syaikh Nawawi, bab Arknus Sholat, hal/29), Kitab Feqih Safinatun Najaa (Syaikh salim bin Samiri Al-Hudlri, fasal Arkanus Sholat, hal/69), Kitab Feqih Riyadlul Badi’ah (Syaikh Muhammad Hasabulloh, Arkanus Sholat, hal/32), Kitab Feqih Fathul Mu’in (Syaikh Zainuddin bin Abdul Aziz Al Malibari) dan masih banyak yang lainnya semunya tidak ada yang memasukkan masalah khusu’.

Namun pendapat itu tidak berlaku bagi Almukarrom Kyai Moch Muchtar Mu’thi pimpinan Thoriqoh Shiddiqiyyah ini. Dalam kitab karangan beliau, Imam Ghozali dalam kitabnya menerangkan khusyu’ itu adalaha ruhnya sholat. Dan sholat tanpa khusyu’ itu laksana manusia tanpa ruh. Al Qur-an juga  menjelaskan orang-orang yang di dalam sholatnya tidak khusyu’ akan mendapat Neraka Weil.

Sungguh beruntunglah kita baru-baru ini Almukarrom Kyai Moch. Muchtar Mu’thi mengemukakan bahwa sebentar lagi beliau akan mengajarkan pelajaran sholat khusu’. Sebgaimana beliau itu disampaikan pada saat menyampaikan mauidhoh hasanah acara wisata rohani Tajrin Naf’ah ke 4 periode 3 di Ball Room Hotel Yusro.

Saat itu sang Mursyid juga menjelaskan bahwa bimbingan rahasia khusus ini juga akan disampaikan dalam sebuah tempat yang khusus pula bukan di sembarang tempat. Kabar gembiranya lagi tampat itu kini sedang dalam proses pembangunan lokasinya berada disebelah timur Gedung Isiqomatul Isti’ana. Villa Hayya ‘alash Sholah Hayyaalal Falah nama bangunan  khusus itu, nama ini mengesankan  seirama  akan pelajaran dan sukses yang akan diperoleh oleh orang-orang yang mengkuti bimbingan ini.

“Mengingat tempatnya sangat terbatas tambah Almukarrom dalam satu gelombang hanya di batasi 200 orang saja. “Gelombang pertama insya Alloh akan diberikan kepada para juru baiat shiddiqiyyah,” terang Almukarrom.*

Article source: http://alkautsar.co/?p=1345

Mendapat kapling tanah calon gubuk di kawasan makam Mbah Sanusi adalah kesempatan mulia yang harus segera dimanfaatkan. Bila tidak, kesempatan itu bisa diambil daerah lain yang lebih siap. Hal ini seperti terjadi pada kapling tanah yang berada di depan Makam Mbah Sanusi. Sedianya di lokasi itu akan dibangun gubug oleh warga Shiddiqiyyah Singapura. Namun karena kurang siap, kapling tanah itu kini diambil alih oleh warga Shiddiqiyyah Bekasi.

 Menurut Kholifah Shobari Hasan dan Kholifah Moch. Munif kawasan tanah itu termasuk Blok A. Mungkin bisa dibilang blok istimewa karena letaknya tepat di depan Makam Mbah Sanusi. Sebelum diambil Bekasi, kapling tanah itu juga pernah ditawarkan kepada Jakarta dan Pekalongan tapi keduanya menyatakan belum siap.

  “Warga Shiddiqiyyah Jakarta dan Pekalongan tidak sanggup,” kata Rohiman mengisahkan. Kemudian tawaran tersebut disampaikan oleh Kholifah Abdul Malik kepada Bekasi, warga Shiddiqiyyah Bekasi menyatakan menerima. Kholifah lalu mensyaratkan sebelum dibangun agar pondasi lama dibongkar dulu dan segera dibangun gubug baru. “Mungkin karena syaratnya ini ( bongkar dan bangun red) jadi banyak daerah yang tidak sanggup,” terang Rohiman.

 Tawaran yang kemudian diterima itu tak serta merta selesai, langkah berikutnya menghadap Mursyid Shiddiqiyyah untuk mohon petunjuk mengingat ada daerah yang menginginkan kapling tanah tersebut, Bekasi dan Singapura. Bersama Kholifah Abdul Malik, ketua DPD Bekasi Rohiman menghadap sang Mursyid. Beliau memberi petunjuk agar kedua daerah tersebut “berebut” berlomba-lomba mana yang lebih dulu siap membangun. “Alhamdulillah Bekasi yang duluan,” imbuhnya.

 Pada bulan Dzul Hijjah 1432 H lalu pekerjaan langsung dimulai setelah mendapat restu dari sang Mursyid dan Kholifah Shobari Hasan, Kholifah Masruchan Mu’thi dan Kholifah Moch. Munif selaku Ketua Penanggung Jawab Qouman Jazima. Seluruh badan bangunan lama sampai pondasi dikeruk. Berbeda dengan kebanyakan gubuk yang sudah ada, meski berukuran normal 4 x 5 meter tim pembangunan yang dipimpin oleh Suhardono merancang gubuk ini berbeda dengan yang lain, dari bahan rangka baja. Cara ini bisa lebih cepat, rangka baja dirangkai dan disetel lebih dulu di Tambun, Bekasi, kemudian tinggal pasang ulang di lokasi. Hingga pekan lalu pengerjaan sudah mencapai 70 persen. “Kita ngebut, insya Alloh sebelum haul sudah bisa diresmikan, insya Alloh satu atau dua bulan lagi selesai 100 persen,” harap Rohiman.* admin

Article source: http://alkautsar.co/?p=1310

Pencarian Dunia
Terapi Sehat Tentrem