Jika kamu menghitung nikmat-nikmat Allah maka kamu tidak akan sanggup menghitungnya”.  (surat Ibrohim ayat 34 dan surat An Nahl ayat 18)

Saking banyaknya nikmat-nikmat yang diberikan Allah kepada kita sehingga kita menghitung semuanya tidak akan mampu, sampai kapanpun tidak akan mampu. Contoh, satu kali tarikan nafas itu merupakan satu nikmat Allah, seandainya kita tidak bisa nafas sekian detik saja maka seketika kita langsung tersadar bahwa satu kali nafas saja adalah nikmat yang sangat berharga, padahal berapa kalikah keluar masuknya nafas ke paru-paru kita sejak lahir sampai sekarang?

Satu kali detakan jantung adalah merupakan nikmat Allah tersendiri, bisakah kita membayangkan jikalau jantung kita berhenti berdetak sekian detik saja? Pastilah keluarga kita akan sangat panik dan seketika tersadar bahwa satu detakan jantung merupakan nikmat yang sangat berharga, padahal berapa kalikah jantung kita berdetak selama ini? Siapapun orangnya pasti tidak akan mampu menghitung detak jantungnya sendiri selama hidup.

Satu kali kedipan kelopak mata juga satu nikmat tersendiri, bagaimanakah jikalau dalam sehari-semalam kelopak mata kita tidak bisa berkedip sama sekali? Pastilah kita merasa tersiksa dan lelah karena mata akan melotot terus. Lalu berapa kali-kah kedipan mata kita sejak dulu sampai sekarang? Tidak mampu kita menghitungnya.

Satu langkah kaki juga satu nikmat Allah, mampukah kita menghitung langkah kaki kita selama hidup? Belum lagi nikmat-nikmat anggota badan lainnya yang sangat banyak sekali. itupun masih nikmat-nikmat jasmaniyah, belum lagi nikmat akal dan fikir, belum lagi nikmat perasaan, belum lagi nikmatul iman, belum lagi nikmat-nikmat bathin lainnya. Kesimpulannya, saking banyaknya sehingga kita tidak akan mampu menghitungnya, dan sampai kapanpun tidak akan sanggup menghitungnya.

 

Namun anehnya, sudah jelas menghitung saja kita tidak mampu tetapi mengapakah banyak ayat Alqur’an perintah supaya  kita mengingat-ingat semua nikmat Allah tersebut?   “Dan ingatlah akan nikmat-nikmat Allah yang diberikan kepadamu”. Ini disebutkan di banyak ayat yakni Albaqoroh/231, Ali Imron/103, Almaidah/7 dan 11, Ahzab/9, Fathir/3.

Bagaimanakah kita mampu untuk mengingat akan nikmat-nimat Allah sedangkan untuk menghitungnya saja kita tidak mampu, bukankah lebih sulit mengingat-ingat daripada menghitung. Ada yang lebih mustahil lagi, sebagaimana yang diperintahkan dalam surat An Nahl ayat 114: “Dan bersyukurlah atas semua nikmat-nikmat Allah yang diberikan kepadamu semua”.

Cobalah kita renungkan, menghitung saja kita tidak mampu apalagi untuk mengingat-ingatnya, lalu mengingat semuanya kita juga tidak mampu apalagi untuk mensyukuri semuanya.  Bukankah mensyukuri itu jauh lebih sulit dari pada mengingat? Bukankah mengingat itu lebih sulit dari pada menghitung? Apakah bunyi masing-masing ayat di atas tidak saling bertentangan? Apakah perintah mensyukuri semua nikmat Allah itu mampu dilaksanakan oleh manusia? Mampukah? Padahal fakta-faktanya sebagai berikut:

1).Dari segi bobot perintahnya.

Maka perintah mensyukuri semua nikmat adalah perintah yang sangat berat, sebagaimana diterangkan di atas.

2).Dari segi keterbatasan manusia.

Bobot perintahnya saja sudah berat, belum lagi jika ditambah dari segi kekurangan manusia.

Bahwa manusia itu makhluq yang lemah:

“Dan diciptakan manusia itu dalam keadaan serba lemah” (surat Annisa’/ ayat 28)

Bahwa manusia itu diciptakan dalam keadaan serba sulit.

“sungguh Kami ciptakan manusia itu dalam kesulitan” (surat Al Balad/ ayat 4)

Bahwa manusia itu dicipta sebagai makhluq yang rewel.

“Sesungguhnya manusia itu diciptakan sebagai makhluq yang rewel” (surat Al Ma’arij/ ayat 19)

3).Dari segi godaan dan penghalang.

Sudah perintahnya berat, manusianya banyak sekali kekurangan, masih ditambah lagi dengan banyaknya godaan dan penghalang yang selalu menyertai manusia. Ditunggangi hawa, lalu dijerumuskan syetan, terus dibegal oleh tipuan kehidupan dunia. Begitu banyaknya godaan dan penghalang yang tidak pernah berhenti dan menyerah untuk menyesatkan manusia.

Maka jika semua segi atau faktor-faktor di atas dipertemukan maka semakin sempurnalah ketidakmampuan manusia menjalankan perintah syukur atas semua nikmat tersebut, semakin sempurnalah kemustahilan untuk bisa mensyukuri semua nikmat-nikmat Allah Taala. Bukankah logika kemustahilan itu semakin jelas tampak di fikiran kita?

Allah Maha Rohman Rohim, Allah Maha Bijaksana, meskipun tingkat kesulitannya sedemikian rupa tapi Allah Taala telah memberikan jalan praktis agar manusia bisa mensyukuri semua nikmat-nikmat Allah Ta’ala, meski menghitung saja tetap tidak mampu.  Bagaimanakah cara praktis tersebut?

Kita tahu bahwa semua nikmat-nikmat Allah yang telah diterima manusia, apakah nikmat lahiriyah ataupun nikmat bathiniyah, nikmat mauhibi ataupun nikmat kasbiy, semuanya itu berdiri di atas “Nikmat HIDUP”. Nikmat hidup adalah nikmat paling dasar.  Semua nikmat, apakah nikmat kesehatan, nikmat penglihatan, pendengaran, fikiran, dsb itu akan menjadi berarti bagi manusia jika manusia itu diberi nikmat HIDUP.

Sebaliknya, betapapun banyaknya nikmat yang kita terima, semuanya itu tidak akan berarti sama sekali jikalau kita tidak diberi nikmat HIDUP oleh Allah Taala. Apalah artinya kekayaan melimpah jika kita mati, apalah artinya kesehatan semua tubuh jika kita mati, apalah artinya kecerdasan fikiran jika kita mati, apalah artinya nikmat panca indera yang sempurna jika kita mati, apalah artinya pangkat dan kedudukan jika kita mati???  Nikmatnya nafas, nikmatnya detak jantung, nikmatnya langkah kaki, nikmatnya lambaian tangan, nikmatnya kedipan mata, semuanya nikmat itu ‘ada’ jika manusianya hidup.

Walhasil nikmat yang paling sentral adalah nikmat hidup, nikmat yang paling awal dalah nikmat hidup, nikmat yang paling dasar dan paling mendasar adalah nikmat hidup, dan semua nikmat-nikmat Allah itu berdiri di atas nikmat hidup.

Maka dengan mensyukuri nikmat hidup itulah cara praktis untuk mampu mensyukuri semua nikmat-nikmat Allah yang tak terhitung jumlahnya.

Memang benar manusia tidak mampu menghitung semua nikmat Allah tetapi Allah Taala telah memberikan cara untuk mampu mensyukuri semua nikmat tak terbilang itu dengan cara “MENSYUKURI NIKMAT HIDUP”.

Ibarat nasi tumpeng di atas nampan (tempeh, jawa), jika menghitung berapa jumlah butiran nasi di atas nampan itupun jelas kita akan kesulitan, dan lagi kita tidak perlu sulit-sulit mengambil satu-persatu sebutir nasi demi sebutir nasi, maka cara praktisnya ialah kita ambil/angkat nampannya maka semua butiran nasi yang tak terhitung jumlahnya itu otomatis akan ikut terbawa semuanya. Karena semua butiran nasi itu berdiri di atas nampan tersebut. Ini hanya sekedar matsal saja (bukan mitsil) untuk memudahkan pemahaman kita saja.

Begitu juga dengan perintah mensyukuri semua nikmat-nikmat Allah Taala, jelas kita tidak mampu karena saking banyaknya, tetapi Allah telah memberi petunjuk agar mampu mensyukuri semua nikmat tersebut yakni dengan cara MENSYUKURI NIKMAT HIDUP, karena semua nikmat yang tak terbilang ini berdiri di atas nikmat hidup. Tanpa nikmat hidup maka semua nikmat tak terbilang itu tidak ada artinya apa-apa bagi manusia. Dengan mensyukuri nikmat hidup maka semua nikmat tak terbilang itu akan otomatis ikut tersyukuri juga.

 

Tapi sebaliknya, jika yang disyukuri itu nikmat tertentu saja secara parsial maka nikmat-nikmat yang lain tidak ikut tersyukuri.

Contoh, seandainya kita dapat rejeki mobil baru lalu kita mensyukuri nikmat mobil tersebut, maka hanya mobil itu sajalah yang kita syukuri tetapi nikmat sandang, nikmat rumah, nikmat jabatan, nikmat keluarga, nikmat kesehatan, nikmat fikiran, nikmat panca indera, dan sebagainya, tidak ikut tersyukuri jikalau hanya mensyukuri nikmatnya mobil baru. Berbeda kiranya jika yang kita syukuri adalah nikmat hidup, maka semua nikmat-nikmat parsial itu akan otomatis ikut tersyukuri juga.

Cobalah kita renungkan, kita diperintah mensyukuri nikmat-nikmat Allah, padahal nikmat-nikmat Allah itu tak terbilang banyaknya, walaupun seumur hidup kita itu diisi dengan rasa syukur atas satu demi satu nikmat secara parsial tersebut maka tidaklah cukup kesempatan kita untuk bisa mensyukuri semuanya, meskipun kita diberi usia 1000 tahun lamanya yang selalu diisi dengan syukur atas satu demi satu  nikmat  secara parsial tetaplah tidak cukup waktu 1000 tahun itu untuk bisa mensyukuri semuanya.

Mengapa tetap saja tidak mampu mensyukuri semua nikmat meskipun semua waktunya diisi dengan syukur atas satu demi satu nikmat secara parsial? Karena dalam sepersekian detik saja, pada saat yang sama, kita telah menerima ribuan nikmat dari Allah Taala, peredaran darah yang terus berjalan mengaliri bermilyar-milyar sel tubuh kita, berapa ribu mega pixel pemandangan alam yang divisualisasi oleh mata kita, berapa banyak lintasan yang berseliweran di fikiran kita, berapa banyak partikel oksigen yang masuk ke jaringan tubuh kita dalam sepersekian detik, dan sebagainya, belum lagi nikmat-nikmat yang ghoib, dan sebagainya. Apalagi dalam satu detik, apalagi dalam satu menit, dan seterusnya. Mungkinkah mampu mensyukurinya satu demi satu? Tidak mungkin.

Tetapi ada jalan pintas untuk mampu mensyukuri semua nikmat-nikmat yang tak terhitung jumlahnya tersebut, yaitu dengan cara MENSYUKURI NIKMAT HIDUP.  Inilah rahasia besar yang terkandung di dalamnya.* alhalaj

Article source: http://alkautsar.co/?p=1648

Leave a Reply

Pencarian Dunia
Terapi Sehat Tentrem