Dan hendaklah kamu berusaha di dalam sesuatu yang Alloh mendatangkan kebahagiaan mu di akhirat, dan janganlah lupa akan nasibmu di dunia, dan berbuat baiklah sebagaimana Alloh berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bum!” Al-Qoshosh ayat 77

Secara umum, bisa dibilang bahwa ekonomi adalah sebuah bidang kajian tentang pengurusan sumber daya material individu, masyarakat, dan negara untuk meningkatkan kesejahteraan hidup manusia. Karena ekonomi merupakan ilmu tentang perilaku dan tindakan manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya yang bervariasi dan berkembang dengan sumber daya yang ada melalui pilihan-pilihan kegiatan produksi, konsumsi dan atau distribusi. Berikut ini adalah pengertian dan definisi ekonomi menurut beberapa ahli:

# ADAM SMITHabraham maslow, hermawan kertajaya,
Ekonomi ialah penyelidikan tentang keadaan dan sebab adanya kekayaan negara

# MILL J. S
Ekonomi ialah sains praktikal tentang pengeluaran dan penagihan

# ABRAHAM MASLOW
Ekonomi adalah salah satu bidang pengkajian yang mencoba menyelesaikan masalah keperluan asas kehidupan manusia melalui penggemblengan segala sumber ekonomi yang ada dengan berasaskan prinsip serta teori tertentu dalam suatu sistem ekonomi yang dianggap efektif dan efisien

# HERMAWAN KARTAJAYA
Ekonomi adalah platform dimana sektor industri melekat diatasnya

# PAUL A. SAMUELSON
Ekonomi merupakan cara-cara yang dilakukan oleh manusia dan kelompoknya untuk memanfaatkan sumber-sumber yang terbatas untuk memperoleh berbagai komoditi dan mendistribusikannya untuk dikonsumsi oleh masyarakat

Kita boleh saja berpatokan dengan konsep ekonomi menurut para ahli tersebut, namun ada baiknya juga memperhatikan konsep ekonomi menurut Qur’an yang diturunkan untuk menjadi pedoman hidup kita. Banyak sekali konsep-konsep ekono­mi yang termuat dalam Al-Qur-an, diantaranya yang bersumber dari surat Al Qoshos ayat 77 tersebut. Maksudnya adalah perekonomian yang dikelola dengan berorientasi pada dunia dan ahirat.

1.  Untuk kebahagiaan hidup di akhirat.

          Pada awal bunyi ayat “Hendaklah kamu berusaha di dalam sesuatu yang Alloh mendatangkan kebahagiaan mu di akhirat“.

          Maksudnya, bahwa bidang-bidang usaha yang dikerjakannya adalah sebagai kendaraan untuk kebaikan di akhirat. Niat bekerja haruslah didasari melaksanakan perintah Alloh dan Rosulullah untuk mencari rizqi yang halal. Mampu mem­bagi waktu dan perhatian antara ubudiyah dan muamalah, dan selalu memenuhi kewajiban-kewajiban ibadahnya. Rizki yang diperolehnya akan menambah amal­ amal baiknya. Pekerjaan atau usaha yang dikelolanya menjadisarana untuk me­nambah ketaatannya kepada Alloh Taala.

2.  Untuk memperjuangkan nasib di dunia

          Rangkaian ayat di atas: “Dan janganlah lupa akan nasibmu di dunia’: Bahwa pere­konomian yang dikelolanya adalah untuk menopang kehidupan sehari-hari diri dan kelu­arganya. Kita bertanggung jawab terhadap kebutuhan hidup anggota keluarga, sehingga mencari rizqi yang halal juga merupakan ibadah.

Alloh Ta’ala berfirman: “Wahai orang­-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka (kesengsaraan, kerusakan)”(QS At-Tahrim 6). QS Al Qoshosh 77 di atas mendidik kita agar tidak melupakan nasib kita di dunia, karena situasi kefa­kiran dan kemiskinan bisa berpengaruh – pada ketenangan dalam beribadah.

          Untuk itulah manusia perlu berusaha dan bekerja, karena Alloh Ta’ala juga berfirman dalam ayat yang lainnya: “Dan tiadalah bagi manusia kecuali sesuai dengan apa yang diusahakannya” (QS An Najm 39).

 

3.  Untuk berbuat baik kepada masyarakat

Lanjutan dari surat Al-Qoshosh ayat 77 berbunyi : “Dan berbuat baiklah sebagai­mana Alloh berbuat baik kepadamu”. Konsep ekonomi ini tidak mengajarkan agar kita menjadi kaya sendiri, sukses sendiri, monopoli, tanpa mempedulikan orang lain. Ayat tersebut mengajarkan, bila nanti sudah mencapai kesejahteraan maka gandenglah orang-orang papa untuk ikut serta merasakan kesejahteraan itu. Bagilah rizki, ilmu, dan pengalaman kita pada orang-orang yang membutuhkan.

Ayat selanjutnya berbunyi : “Dan ber­buat baiklah sebagaimana Alloh berbuat baik kepadamu“. Bimbinglah, ajarilah, dan bangkitkan semangat mereka agar mereka bisa bangkit dan berusaha mem­perbaiki taraf kehidupannya.

Rosulullah SAW bersabda: “Barang­siapa memberikan kemudahan kepada orang mukmin yang sedang dalam kesulitan maka Alloh akan memberikan kemudahan kepada­nya di dunia dan di akhirat” (HR. Muslim, kitab Hadits Arba’in Nawawiyah, hadits nomer 36).

Agama Islam mengajarkan, jika kita memberikan sesuatu pada orang lain ma­ka pemberian itu tidak akan mengurangi kekayaan kita, namun sebaliknya, semakin kita berbagi semakin berkem­banglah apa yang sudah ada pada diri kita. Jadi diantara konsep ekonomi menu­rut Al Qur-an, bila ingin maju dan berkembang maka berbagilah.

4. Untuk mencegah kerusakan di bumi

Lanjutan ayat berbunyi : “Dan jangan­lah kamu berbuat kerusakan di bumi’:

          “konsep ekonomi menurut Al-Qur-an Juga berorientasi untuk mencegah kerusakan di bumi”

Bahwasanya kemiskinan itu bisa ber­potensi menggiring manusia pada jurang kekufuran, sebagaimana dalam hadits Nabi : `Adalah kefakiran au dekat dengan kekufuran’ : (dari Shohabat Anos, diriwayat­kan oleh Imam Abu Na’im, Jami’us Shoghir /  huruf Kaf / hal 231).

Jika ada seseorang yang jatuh faqir hingga makan saja kesulitan maka jika keimanannya tidak kuat bisa menya­lahkan nasib dan taqdir yang dialaminya. Menggerutu, bahkan bisa su’udhon kepada Alloh Ta’ala. Atau bertindak dengan jalan pintas, menghalalkan segala cara agar bisa mencukupi kebutuhan hidupnya. Inilah yang dimaksud kefakiran dekat dengan kekufiuan. Dan memang benar bahwa dampak sosial dari kemiskinan ialah kri­minalitas dan meningkatnya kejahatan. Maka konsep ekonomi menurut Al-Qur­an juga berorientasi untuk mencegah kerusakan di bumi, menghindari kema’shiyatan, mencegah dari kekufuran.

5. Mensucikan Harta Benda

Dalam proses mencari rizki, walau­pun berhati-hati, terkadang tanpa disengaja ada kemungkinan rizki tersebut ber­campur dengan harta yang syubhat (tidak jelas halal dan haromnya), apalagi haram. Agar tidak mengganggu kesucian ibadah maka rizki haruslah disucikan dan diber­sihkan. Karena jika dibiarkan dikhawa­tirkan ibadah-ibadah kita tidak diterima oleh Alloh Ta’ala karena masih bercam­pur dengan harta yang syubhat tersebut.

Di dalam kitab Riyadlus Sholihin, hal 685, Rosulullah SAW telah bersabda: “Sesungguhnya Alloh Taala itu Dzat yang Maha Suci, tidaklah akan menerima dari hamba kecuali yang suci” (HR. Muslim). Kemudian di dalam kitab hadits Arba’in Nawawiyah, hadits nomer sepuluh, dite­rangkan lagi sebagai berikut: Dari Abu Huroiroh RA, beliau berkata: Rosulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Alloh Taala itu Drat yang Maha Suci, tidak menerima sesuatu kecuali yang suci. Dan sesungguhnya Alloh Taala telah memerintahkan kepada orang-orang mukmin sebagaimana apa yang telah diperintahkan Nya kepada para rasul.

Alloh telah berfirman: “Wahai para rasul, makanlah dari segala sesuatu yang baik dan beramal sholehlah “.

Dan Alloh telah berfirman pula: “Wahai orang-orang yang beriman, makanlah dari segala apa yang telah Kami rizqikan kepadamu”.

Kemudian beliau menuturkan/menceritakan bahwa ada seorang laki-laki yang sudah lama pengembaraannya, kusut rambutnya lagi berdebu mukanya, ia menengadahkan kedua tangannya ke langit sambil berdoa: “Wahai Tuhan, Wahai Tuhan; sedangkan makanannya haram, minumnya haram, pakaian haram, dan dia disuapi dengan makanan haram, maka bagaimanakah dia akan dikabulkan permohonannya?”. (HR. Muslim).

Cara mensucikan dan membersihkan harta benda tersebut ialah dengan shodaqoh, sebagaimana diterangkan dalam QS At Taubat 103 : “Ambillah sebagian dari harta benda mereka sebagai shodaqoh untuk mensucikan mereka dan untuk membersihkan mereka dengan shodaqoh itu”

Jadi setiap kita memperoleh rizqi harta benda maka sebagian darinya (min amwaalihim) perlu harus disalurkan untuk shodaqoh. Adapun berapa besaran shoda­qoh yang harus dikeluarkan bisa kita pelajari lebih lanjut dalam bidang ilmu feqih.

Konteks Kekinian

          Konsep ekonomi berdasarkan Al­-Quran di atas mengajarkan sistem berekonomi yang nafah atau bermanfaat bagi masyarakat. Bukan materialistik dan bukan semata-mata untuk diri sendiri, karena tujuan untuk kemaslahatan di akhirat. Hal ini sudah diakomodir dalam Sistem Ekonomi Pancasila sebagaimana termaktub dalam UUD 1945 pasa1 33 dan pasa1 34. Pasal 33 menyebut bahwa sistim ekonomi kita adalah berasas kekeluar­gaan, dan bertujuan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. Namun sayang, dalam kenyataannya, sistem ekonomi Pancasila tersebut belum dijalankan dengan baik dan benar. Pemerintah dan wakil rakyatnya lebih menganak-emaskan Para Pengusaha besar, hal ini bisa kita lihat dalam regulasi-regulasi yang dikelu­arkan, juga dalam praktek praktek di lapangan.

Selanjutnya pada pasal 34 berbunyi: “Fakir miskin dan anak-anak terlantar di­pelihara oleh Negara”. Tetapi sayang, amanat konstitusi yang satu ini tidak dija­lankan oleh pemerintah. Maka sebenar­nya sistim ekonomi Pancasila sudah seja­lan dengan sistem ekonomi menurut Al-Qur-an hanya saja dalam prakteknya belum dilakukan secara baik dan benar.

2 Responses to “Konsep Ekonomi Menurut Al Qur’an”

  • Drs.Prayitno, MM, Akt:

    terima kasih makalah ini bermanfaat bagi saya untuk memberikan tausyiyah di bulan ramadlan agar orang muslim kuat imannya dan kuat ekonominya.
    Terima kasih

  • saifudin:

    Betul sekali, bahwa kesalahan terbesar pemerintah Indonesia adalah melanggar undang undang dasar. negara tidak mau memelihara fakir miskin dan yatim piatu walau APBN sudah mencapai diatas seribu trilyun.Buktinya tidak ada kementrian fakir miskin dan yatim yang bertugas melindungi mereka. Bukti kedua coba saja di jalan jalan, banyak gelandangan, banyak anak anak terlantar, kita tanya, kementrian apa yang mengurus mereka? Negara sudah bermewah mewah yang dibangun obligasi negara, pinjaman Luar negari, Penanaman modal asing. Siapa mengurus fakir miskin?

Leave a Reply

Pencarian Dunia
Terapi Sehat Tentrem