Banyak kita jumpai dalam berbagai kitab salaf yang menerangkan bahwa Nabi Muhammad SAW adalah seorang yang tidak bisa membaca dan menulis atau disebut nabiyyil ummiyii.

Pendapat ini berdasarkan peristiwa yang terjadi saat turunnya wahyu Iqro’. Ketika Jibril menyampaikan wahyu pertama, “Iqro’ !“, Beliau menjawab, “Maa anaa biqoori-in” (Saya tidak bisa membaca). Lalu diulang kembali oleh Jibril sampai 3 x begitu terus.

Berdasarkan peristiwa di Gua Hiro ini akhirnya mayoritas ulama berpendapat bahwa Nabi Muhammad SAW tidak bisa membaca dan menulis. Benarkah pendapat mayoritas ulama tersebut ?

Mari kita telaah dengan lebih hati – hati

Ayat yang pertama kali turun ialah “Iqro’ (bacalah)!” Apakah sebenarnya yang harus di baca?.

Rasanya bukan sekedar perintah membaca seperti membaca abjad/buku, terlalu remeh kiranya kalau menganggap hal itu adalah perintah baca tulis alphabet. Terlalu dangkal untuk mengartikan makna ayat yang pertama turun tersebut sebagai perintah supaya rajin belajar. Tentu yang dibaca bukan tulisan, karena kalau sekedar tulisan, maka makna yang terkandung di ayat tersebut terlalu sempit.

Dan yang patut disayangkan bahwa pendapat seperti ini secara tidak disadari adalah pendapat yang menghinakan Nabi Agung Nabi Muhammad SAW, …astaghfirulloohal`adhiim.

Jadi perintah Iqro` pada wahyu pertama turun itu bukanlah perintah untuk membaca tulisan abjad.

Dan jawaban Nabi Muhammad “Maa anaa biqoori-in (saya tidak bisa membaca)” itu bukanlah mengarah pada maksud “buta huruf”, karena yang dibaca bukanlah huruf demi huruf.

Selanjutnya mungkin ada yang menyangkal begini:

Lho didalam Alqur-an jelas-jelas ada ayat yang menyebut tentang kalimat “Nabiyyil Ummiyyi”, dan artinya Nabiyyil Ummiyyi adalah Nabi yang tidak bisa membaca dan menulis. Berarti anda tidak percaya terhadap ayat tersebut?

Jawaban kami:

Memang ada dua ayat dalam Alqur-an yang menyebut kalimat “Nabiyyil Ummiyyi” yaitu didalam surat Al A`rof ayat 157 dan surat Al A`rof ayat 158. Kalimat Nabiyyil Ummiyyi memang jelas disebut dalam Al Qur-an, dan kami tidak mungkin mengingkarinya. Tetapi mengenai hal ini kami berbeda didalam memaknai kalimat Nabiyyil Ummiyyi dalam ayat Al Qur-an tersebut. Kalau mayoritas ulama` memaknainya dengan arti “tidak bisa membaca dan menulis”, maka kami berbeda dalam memaknainya.

Secara lughot/bahasa, memang kalimat “ummiyyi” dapat diartikan “tidak bisa baca tulis”, tetapi “ummiyyi” secara lughot juga bisa diartikan “induk” kalau terambil dari asal kata “ummi atau ummun” (artinya: induk atau ibu).

Jadi kalimat “ummiyyi” ini menurut kaidah bahasa arab termasuk “ismun musytarikun” yakni satu kata/kalimat tetapi memiliki beberapa makna/arti.

Maka apabila kalimat “ummiyyi” ini digandengkan dengan kalimat “Annabiy atau Nabiyyi” maka harus diartikan “induk”, bukan diartikan “buta huruf”, inilah pentingnya kita harus memahami “syiyaaqul kalaam”.

Dan kalau kita cermati syiyaaqul kalaam pada ayat tersebut (QS Al A`rof 157) maka makna “Nabiyyil Ummiyyi” dalam ayat ini mengarah pada pengertian “induknya para nabi”, karena dalam ayat itu menerangkan bahwa nama Nabi Muhammad telah diberitakan didalam kitab-kitab suci para Nabi sebelumnya.

Begitu juga kalau mencermati Syiyaaqul kalaam pada ayat berikutnya (QS Al A`rof 158), makna “Nabiyyil Ummiyyi” dalam ayat ini juga mengarah pada pengertian “induk/pimpinan” karena dalam ayat ini menerangkan tentang perintah untuk mengikuti beliau.

Tidak relevan bila diartikan “buta huruf” bila melihat Syiyaaqul kalaam pada kedua ayat tersebut.

Sedangkan kalimat “Nabiyyil Ummiyyi” dalam Kitab Al Qur-an hanya disebutkan di dua ayat itu saja. Jadi jelaslah sudah bahwa yang dimaksud adalah nabi induk bukannya nabi buta huruf

Apakah Sebenarnya Obyek yang Dibaca?

Dalam setiap peringatan nuzulul qur-an di berbagai tempat, selalu menceritakan tentang peristiwa turunnya wahyu pertama di dalam Gua Hiro`, “Bacalah!”, “Saya tidak bisa membaca”, “Bacalah!”, “Saya tidak bisa membaca”, “Bacalah!”, “Saya tidak bisa membaca”, begitu-begitu saja yang diceritakan tetapi tidak pernah mengupas “obyek apakah yang harus dibaca”.

Iqro’ yang dimaksud di ayat tersebut bukan sekedar membaca tulisan alphabet.

Lalu apa?

Apakah Iqro disitu adalah membaca ayat-ayat Allah? Ayat-ayat tentang kebenaran (Alhaq)?, sedangkan dalam terminologi Islam, pengertian ayat itu ada dua yaitu ayat yang difirmankan (ayatul kalam) dan ayat yang diciptakan (ayatul kaun).

Apakah membaca alam semesta dan segala ciptaan-Nya, termasuk juga diri kita sendiri?

Bukankah semua di alam semesta ini adalah ‘kitab’ karangan Allah SWT?

Bukankah sebagaimana sebuah kitab, ia harus dibaca?

Apakah tujuan membaca adalah untuk memahami isinya. Dan untuk memahami isinya, kita harus mengerti gagasan (topik) dasar dari kitab tersebut, sistematika penulisannya, dan sebagainya?

Apakah ketika kita membaca alam semesta ini, kita harus fahami topik dan gagasannya, tujuannya, sistematikanya, maksud Sang Pengarang, dan sebagainya?

Sebagaimana dalam ayat Iqro` yang keempat, yang menyebutkan bahwa Allah mengajarkan manusia melalui Qolam (`Allama bil Qolam), dari sini saja jelas perintah Iqro` itu tidaklah remeh sekedar baca tulis.

Dan dari ayat (`Allama bil qolam. `Allamal insaana maa lam ya`lam) ini ada benang merah dengan yang diterima oleh Nabi Adam AS :

Dan Allah mengajarkan kepada Adam nama-nama seluruhnya”. QS Al Baqoroh 31

Manusia adalah keturunan Adam, dan itu artinya mewarisi genetik Adam.

Manusia tidak menerima langsung pengetahuan tentang asma-asma (asmaa-a kullahaa) seperti yang diterima Adam, namun dalam diri manusia telah menyimpan potensi untuk mengetahui nama-nama itu melalui warisan genetik dari Adam.

Ketika Isaac Newton tidur dibawah pohon apel, lalu kejatuhan buahnya, dan Newton berfikir kenapa buah apel itu jatuh ke bawah, apa yang membuatnya jatuh ke bawah tidak ke atas, maka sebenarnya proses berfikir yang dilakukan oleh Isaac Newton ini sama dengan membaca. Isaac Newton ini membaca hukum alam (sunnatullah) yang telah di set-up oleh Yang Maha Kuasa.

Bahwa bumi ini diseting oleh Qodratullah sehingga mempunyai daya grafitasi yang memungkinkan setiap benda yang jatuh tidak melayang ke angkasa, fenomena ini adalah asma’ yang sudah tertanam dalam potensi manusia (wa`allama aadamal asmaa-a kullahaa), sehingga untuk memahaminya Newton melakukan Iqro’ atas fenomena tersebut, dari proses pembacaaan / iqro` tersebut maka lahirlah ilmu (`allama bil qolam `allamal insaana maa lam ya`lam).

Semua pengetahuan yang kita kuasai sekarang adalah proses pembacaan atas asma-asma. Dan karena semua asma-asma telah di”copykan” Allah kepada Adam, maka kitapun mempunyai potensi untuk memahami semuanya atas fenomena alamiah ini. Pengetahuan mutakhir kita hari ini hanyalah sekedar mengungkapkan atas asma-asma yang dikuasai oleh Adam, dan untuk mendalaminya haruslah melakukan Iqro`. Maka dari itu ayat pertama yang turun ialah Iqro`.

Lalu apakah sebenarnya obyek yang harus di-iqro`, obyek yang harus dibaca ketika Jibril perintah kepada Nabi Muhammad di dalam Gua Hiro`?

Untuk mencari tahu persoalan penting ini, marilah kita rekonstruksi kembali kejadian tersebut untuk mengetahui proses kejadiannya secara detail, sehingga kita bisa mengidentifikasi apakah sebenarnya yang harus dibaca. Yaitu sebagai berikut:

Dalam Kitab Hadits Shohih Bukhori / Jilid 1 / Bab Kaifa kaana bad`ul wahyi / hal.7 :

Keterangan dari Aisyah RA :

1. Datanglah kepada beliau kebenaran, dan beliau sedang didalam Gua Hiro` maka datang malaikat kepada beliau.

Berkata malaikat : “Bacalah!”, beliau menjawab : “Saya tidak bisa membaca”.

Maka malaikat menyekap diri saya sampai saya kepayahan, kemudian melepaskan saya.

2. Kemudian malaikat berkata lagi : “Bacalah !”, saya menjawab : “Saya tidak bisa membaca“.

Maka malaikat menyekap lagi kepada saya yang kedua kali hingga saya kepayahan, kemudian melepaskan saya.

3. Lalu malaikat berkata lagi : “Bacalah !”, saya berkata : “Saya bukan orang yang bisa membaca”.

Kemudian saya diambil disekap lagi yang ketiga kalinya, kemudian saya dilepaskan.

4. Kemudian malaikat membaca : “Iqro` bismi robbikal ladzii kholaq. Kholaqol insaana min `alaq. Iqro` warobbukal akrom. Alladzii `allama bil qolam. `Allamal insaana maa lam ya`lam”.

Dari sini mungkin dapat kita ambil pengertian bahwa begitu Nabi Muhammad menjawab “Saya tidak bisa membaca”, maka Jibril memberikan isyarat atau petunjuk akan obyek yang harus dibaca dengan menyekap diri Nabi Muhammad. Seakan-akan Jibril berkata “Ini lho yang harus dibaca” atau seakan-akan berkata: “Yang saya sekap ini lho yang harus dibaca”.

Sehingga ketika Nabi menjawab “Maa anaa biqoori-in” sebanyak 3 kali maka Jibril menyekap diri beliau juga sebanyak 3 kali untuk menjelaskan apa yang harus dibaca.

Membaca adalah melakukan penyingkapan tabir. Membaca adalah melakukan transliterasi pemahaman atas suatu objek untuk menangkap apa yang sebenarnya di dalamnya.

Keajaiban Iqro`

Adanya pendapat bahwa Nabi Muhammad tidak bisa membaca dan menulis dipakai sebagai dalil dan bukti bahwa wahyu Ilahi itu bukan karangannya Nabi Muhammad maka tidak perlu dengan cara menghinakan Nabi. Bukti-bukti kongret sangat banyak yang bisa membuktikan bahwa ayat-ayat Al Qur-an itu bukan karangan manusia tapi betul-betul wahyu dari Allah Ta`ala. Kita bisa membuktikan keajaiban wahyu Ilahi tanpa dengan menghinakan Nabi Muhammad SAW.

Begitu banyak keajaiban Al Qur-an yang bisa membuktikan bahwa itu bukan karangan manusia dan kita akan kewalahan menangkapnya karena begitu banyaknya keajaiban dalam Al Qur-an. Oleh karena yang kita bahas sekarang tentang wahyu Iqro` maka disini diutarakan mengenai sebagian keajaiban-keajaiban Iqro` yang ada kesesuaian antara yang satu dengan yang lainnya, diantaranya sebagai berikut :

  1. Jumlah surat dalam Al Qur-an = 114 surat, ini kelipatan 19 (114 : 6 = 19).
  2. Tiap-tiap surat diawali ayat Bismillahirrohmanirrohim.
  3. Dan jumlah huruf dalam ayat Bismillahirrohmanirrohim = ada 19 huruf.
  4. Jumlah ayat Bismillahirrohmanirrohim dalam Al Qur-an = ada 114, ini kelipatan 19.
  5. Sebab di surat nomer 9 (At Taubat) tidak diawali Bismillah tetapi di surat nomer 27 (An Nahl) ayat Bismillah nya dobel sehingga jumlahnya tetap 114, dan tetap kelipatan 19.
  6. Mengapa yang Bismillahnya dobel itu terletak di surat nomer 27 (An Nahl). Karena bila dihitung dari surat nomer 9 (yang tidak ada Bismillahnya) sampai dengan surat nomer 27 (yang Bismillahnya dobel) itu berselang 19 surat. Dihitung mulai 9,10,11,12 ….sampai 27 = berselang 19 surat.
  7. Angka 9 kalau dijumlahkan sampai dengan angka 27, hasilnya tetap kelipatan 19. Contoh : 9+10+11+………+26+27 = 342. Angka ini juga kelipatan 19 (342 : 18 =19).
  8. Iqro` bismirobbika sampai maa lam ya`lam, pada prinsipnya sama dengan Bismillahirrohmanirrohim, sama-sama sebagai pintu gerbang dan sama-sama berjumlah 19.
  9. Jumlah kalimat dalam ayat Iqro` sampai Maa lam ya`lam (ayat 1-5) = ada 19 kalimat.
  10. Jumlah seluruh ayat dalam surat Iqro` = ada 19 ayat.
  11. Jumlah keseluruhan huruf dalam surat Iqro` = kelipatan 19.
  12. Surat Iqro` adalah surat nomer 96, dan kalau kita hitung mundur dari surat terakhir (surat nomer 114 yaitu surat An Naas), maka surat Iqro` jatuh di urutan nomer 19 dari surat terakhir.

Kalau tidak percaya silahkan dihitung sendiri.

Demikianlah kalau digali terus maka kita akan menemui keajaiban-keajaiban ayat yang sampai pada kesimpulan : “Subhanalloh, Maha Suci Alloh, ini bukan karangan manusia”.

Sebab jumlah huruf saja dihitung, ini yang kelihatan, belum lagi keajaiban-keajaiban lebih besar yang tidak tampak panca indera. Bukti-bukti seperti ini sudah lebih dari cukup untuk menunjukkan bahwa Al Qur-an itu bukan karngan manusia, dan tidak perlu sampai menghinakan Nabi Muhammad dengan menyebutnya sebagai seorang nabi yang buta huruf.

Alhalaj Muhyiddin

5 Responses to “Benarkah Nabi Tidak Bisa Baca Tulis ?”

  • subahanaloh, memang betul

  • sang jelata:

    Rasulullah SAW, memang tidak bisa baca dan tulis karena Allah menghendaki demikian, ada alasan2 yang telah diceritakan oleh para orang tua kita dan guru2 kita dahulu, yaitu bila Rasulullah bisa baca dan tulis maka al Qur’an akan dianggap buatan Rasulullah sendiri oleh orang2 kafir yg dijiplak atau diambil dari literatur/kitab lain seperti taurat dsb. Allah ingin memberikan hujjah atas kebenaran wahyu al Qur’an melalui diri Rasulullah yg ummiy.
    sesuai firmanNya:

    ”Dan kamu tidak pernah membaca sebelumnya (Al Quran) sesuatu Kitabpun dan kamu tidak (pernah) menulis suatu Kitab dengan tangan kananmu; Andaikata (kamu pernah membaca dan menulis), benar-benar ragulah orang yang mengingkari(mu).” (QS. Al Ankabut: 48)

    Pada jaman itu tidak bisa membaca dan menulis tidak dianggap bodoh, yang dianggap bodoh adalah orang yg mempunyai hafalan lemah. Seorang penyair pada jaman itu akan sangat malu bila sebelum tampil masih kedapatan membaca tulisan sya’irnya karena belum hafal.

    Rasulullah memperoleh ilmunya melalui wahyu dari Allah Subhanahu wata’ala, namun tidak dengan kita sebagai ummatnya. Maka dari itu mempelajari ilmu hukumnya wajib bagi kita ummat islam, dan salah satunya adalah dengan bisa baca dan tulis, tapi tidak bagi Rasulullah. Sama halnya seperti sedekah, Rasulullah dan keluarganya diharamkan menerimanya tapi tidak dengan kita.

    Bagi saya, Rasulullah adalah kecintaan saya, kemuliaan Rasulullah tidak sebanding hanya dengan perasaan minder kita kepada ummat agama lain karena beliau tidak bisa baca dan tulis, sehingga kita harus “membuat” sosok Rasulullah yg sesuai dengan idealis kita. Padahal apa yg menurut kita bagus belum tentu bagus di mata Allah, itu disebabkan karena kita tidak bisa memahami begitu luasnya ilmu Allah.

  • Abdul Faqir:

    Respon yang baik.. “Mudah mudahan Alloh menunjukkan kebenaranNya”,
    Demi Alloh Yang menjadikan Baginda Nabi menjadi Uswatun Khasanah, Luar Biasa Keilmuannya,
    sebagaimana peristiwa yang terdapat pada Sahih Muslim, Book 019, Number 4401 demikian; “Ali bin Abu Thalib pernah menuliskan perjanjian damai antara Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan orang-orang Musyrik (Makkah) ketika perjanjian Hudaibiyyah. Ali menuliskan (mencantumkan tulisan), “Ini adalah perjanjian yang ditulis oleh Muhammad Rasulullah.” Lantas mereka berkata, “Jikalau kami tahu bahwa kamu adalah Rasulullah, tentu kami tidak akan memerangimu.” Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada Ali: “Hapus kata-kata itu (tulisan ‘Rasulullah’).” Ali menjawab, “Aku tidak mau menghapusnya.” Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang menghapusnya dengan tangannya sendiri.”

    Tulisan itu yang menghapus Baginda Nabi sendiri.
    Kalo ane c ga akan sembarangan menghapusnya, sebelum dibaca dulu bagian mana yang harus dihapus..

    Jujur saja dari dulu ngerasa belum nerima aja kalo diceritakan para ustadz bahwa Baginda Nabi adalah seorang buta huruf…
    Tapi sekarang alhamdulillah sudah jadi mantep.. Bahwa Baginda Nabi Seorang Yang Tidak Buta Huruf.

  • abdul muntholib:

    alhamdulillah akhirnya mlewati berkah keilmuan romo yai much’tar much’ti sy lebih paham akan sejarah rasulullah……..klu bs terus update pelajaran yg lebih mendalam!!!!soalnya sy sbg murid ada di rantau

  • ambari:

    subanallooooh….alhamdulillaaaaaah……astaghfirulloooooh…..terima kasih atas berlian ilmu yang dalam Romo Yai Muchtar Mu*thi, begitu luas…dalaam dan berlapis – lapis makna kandungan ayat suci Al-Qua*n kariim

Leave a Reply

Pencarian Dunia
Terapi Sehat Tentrem