Menjelang wafatnya ibunda Mursyid, beliau berpesan: “Nduk, aku pesen karo kowe, menowo aku wis meninggal dunia, kowe sekarone ojo lali, ojo lali selametan lahire bojomu, amergo bojomu nanggung jawab marang umat banget abote”.

Ibu nyai Nasihah,  ibunda sang Mursyid sampai berpesan kepada menantunya supaya selalu melakukan selamatan dan shodaqoh di hari kelahiran sang  Mursyid, dengan alasan karena sang Mursyid itu mengemban beban berat.

Mencermati isi nasehat ini bisa kita ambil pemahaman bahwa dengan mensyukuri nikmat kelahiran maka suatu tanggung jawab yang berat akan mampu untuk diemban.  Nasehat di atas bisa kita ambil pelajaran untuk diri kita masing-masing bahwa jikalau begitu maka tanggung jawab dalam bidang-bidang yang lain pun demikian adanya, artinya bilamana kita mau mensyukuri nikmat kelahiran kita maka apapun beban dalam hidup kita, apapun tugas atau tanggung jawab yang ada di pundak kita, meskipun berat sekalipun, insya Allah bisa terselesaikan, caranya ialah dengan mensyukuri nikmat kelahiran, baikpun kelahiran kita sendiri maupun kelahiran guru kita.

Jadi dalam ibadah mensyukuri nikmat kelahiran itu mengandung rahasia kesuksesan, rahasia keberhasilan, rahasia kemudahan, untuk segala sesuatu yang bertujuan baik.  Pelajaran berharga inilah yang harus kita cermati bersama. Hari kelahiran juga  merupakan moment yang paling baik untuk muhasabah (koreksi diri), sudah berapa tahun umur kita, kira-kira tinggal berapa lama lagi hidup kita, sudahkah hidup kita sesuai dengan semua aturan dari Alloh, sudahkah kita berterimakasih (syukur) kepada Alloh, sudahkah kebaikan kita melebihi kesalahan kita dan seterusnya. Dengan kesadaran ini, insya Alloh akan bisa merubah hidup kita menjadi lebih baik.

Dahulu para  leluhur juga berpesan setiap keinginan atau harapan kita agar mudah tercapai, memang harus digantungkan pada Alloh namun juga hendaklah melibatkan semua unsur kita (baik yang mikrokosmos maupun yang makrokosmos) secara kompak, yakni dengan selalu mensyukuri awal kita lahir kedunia dan melebur kedalam “kekuatan pancer” yang bersifat transenden (Tuhan Yang Mahakuasa).

Pesan ini rasanya selaras dengan informasi dalam Alqur’an maupun hadist. Bahwa menyuskuti hari kelahiran adalah memang perintah Alloh bahkan  merupakan  bahkan merupakan pondasi untuk mensyukuri semua nikmat Alloh.

Dikatakan pondasi karena kelahiran itu adalah awal kita merasakan hidup di dunia atau tanpa nikmat kelahiran, tidak mungkin kita bisa merasakan nikmat lainnya. Dengan demikian berarti nikmat kelahiran adalah merupakan nikmat pondasi, karenanya bila mensyukuri nikmat kelahiran sama halnya mensyukuri nikmat pondasi dan dengan mensyukuri nikmat pondasi otomatis juga mensyukuri nikmat diatasnya.

Mensukuri hari kelahiran dengan bershodaqoh misalnya, denga shodqoh itu manusi akn dilimpahi keajaiban dari Tuhan Hal ini bisa dilihat dari keajaibannya shodaqoh..selengkapnya baca Al-Kautsar edisi 71

Article source: http://alkautsar.co/?p=1620

Leave a Reply

Pencarian Dunia
Terapi Sehat Tentrem